Aku mengenalmu bukan hanya 1 atau 2 hari, tapi hampir 3 tahun. Pertama kali aku mengenalmu, 2,5 tahun lalu, ketika aku terjebak disuatu ruangan yang cukup membosankan bagiku pada malam itu, namun aku menemukanmu tertunduk pada sebuah catatan kecilmu di pojokan kelas. Membuatku betah berlama-lama diruangan itu. Terlebih ketika aku benar-benar berkenalan denganmu. Namanya juga jatuh cinta, mengenalmu saja aku sudah senang. Haha lucu ya kalau diingat2. Awalnya aku tak percaya yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi nyatanya, aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu. Padamu malam itu.
Sungguh bukan diriku yang ketika jatuh cinta pada seseorang menjadi seorang yang agresif mencari tahu semua tentang hidup pria yang disukainya hingga berani menegurmu akrab seperti sudah mengenal ribuan tahun. Ketika aku jatuh cinta padamu, aku seperti itu. Gila. Kamu cukup merubahku menjadi wanita seperti itu. Saat aku jatuh cinta padamu, hatiku sedang dilanda awan hitam. Saat aku jatuh cinta padamu aku tak pernah seyakin ini denganmu. Aku cukup lelah diberikan harapan palsu oleh pria-pria sebelum aku bertemu kamu.
Aku bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta pada lawan jenis. Terlalu banyak yang kupertimbangkan ketika aku jatuh cinta pada seseorang. Tapi padamu perasaan itu kubiarkan berdiam menetap pada diriku. Entah mengapa aku begitu yakin kamu juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Entah mengapa aku tidak ingin menghilangkan perasaan itu, walaupun banyak sikapmu yang seharusnya membuatku menjauhi dirimu, tapi denganmu aku menerimamu apa adanya. Dan aku menyimpan perasaan itu hingga detik ini.
Selama hampir 3 tahun aku mengenalmu, aku sudah terlalu banyak menaruh harapan itu padamu. Harapan yang tidak mungkin kamu tidak mengerti. Menurutku kamu berbeda dengan pria-pria lain yang sudah kukenal sebelumnya. Disaat orang lain menolakku karna fisikku tidak seperti wanita pada umumnya, hanya dirimu yang membuatku selalu percaya diri bahwa fisikku bukanlah kekurangan yang harus ku sesali. Hanya dirimu yang tak pernah mengeluh saat aku mengeluhkan keadaan padamu. Hanya kamu yang sabar mendengarkan ceritaku yang memakan waktu berjam-jam. Hanya kamu yang membuatku menjadi diriku sendiri. Dan hanya denganmu aku tidak perlu menjadi orang lain.
Ketika orang lain mencintaimu karena bujuk rayumu, aku jatuh cinta padamu tanpa aku ketahui apa alasannya. Bisa saja aku membencimu karena hal-hal abnormal yang kamu lakukan sehari-hari. Tapi aku selalu bisa menerima sikapmu. Hingga detik inipun aku tak tahu mengapa aku bisa jatuh cinta padamu. Aku sudah terlalu percaya dan yakin bahwa akhirnya aku pasti bersamamu. Hingga aku tak sadar bahwa sudah selama itu aku jatuh padamu. Jatuh pada orang yang selalu membuatku tak yakin akan perasaanmu padaku. Kamu yang terkadang bisa memberikan ribuan lampu hijau padaku dan kemudian menghilang begitu saja semaumu.
Saat rasa rindu itu datang, tidak ada 1 pun kesempatan untuk aku menjumpai dirimu untuk melepas rindu itu. Namun disaat hati dan pikiranku tidak sempat untuk memikirkanmu, Allah selalu mempertemukan aku denganmu. Mungkin agar aku selalu ingat bahwa kamu ada didekatku. Hampir 3 tahun dirimu menetap di hati dan pikiranku. Aku mulai lelah. Seperti tersadarkan oleh keadaan bahwa menunggumu seharusnya ada batasnya. Aku mulai lelah seperti aku yang terus berlari mengejarmu namun kamu tidak ingin berhenti menungguku didepan sana. Menungguku untuk kemudian berlari bersamamu. Perlahan aku mencoba melupakanmu, namun disaat aku sedang berjuang melupakanmu, perlahan pula kamu datang. Seolah-olah aku tidak boleh meninggalkanmu begitu saja.
Aku lelah berlari. Berlari mengejarmu tak tau sampai mana aku harus terus berlari mengejarmu. Kamu tidak pernah berhenti untuk menungguku yang tertinggal dibelakang, tapi kamu selalu memberiku air agar aku tidak kehausan saat aku mengejarmu. Kamu selalu jadi penyemangatku ketika banyak orang yang melemparku jatuh saat aku sedang diatas. Kamu membiarkanku menjadikanmu diary hidupku yang bisa kapan saja kutulis. Temanku berkata, "berhentilah mengejar yang tak pasti" namun beberapa berkata "kejarlah siapa tau dia sebenarnya menunggu kehadiranmu di titik finish". Bingung. Aku tak tau harus terus mengejarmu atau harus berhenti dan beristirahat karena lelah. Mengejarmu yang tak pasti apakah didepan nanti kamu berhenti untuk menungguku atau berhenti dan merubah arah untuk mengejar orang selainku.
Terlalu banyak pertanyaan yang ku tanyakan kepada Allah akibat semua sikapmu. Kamu terlalu baik hingga aku jatuh terlalu dalam olehmu. Setelah sekian lama aku menaruh perasaan padamu. Bahkan hampir semua perasaan yang kubagi untuk lawan jenisku ini kuisi dengan namamu, disetiap doa, langkah, dan pikiranku hanya tersebut namamu, akhirnya Allah menjawab semua doa-doaku selama ini. Malam itu menjadi jawaban atas semua doa-doaku yang selalu kupanjatkan pada Allah.
Aku tau, tahun ini, 2015, adalah tahun dimana kamu memperjuangkan sebuah gelar sarjana. Dari awal tahun aku sudah mengira tahun ini menjadi akhir dari pertemuanku denganmu. Bukan untuk selamanya, hanya saja setelah wisuda nanti, pasti bertemu denganmu menjadi hal yang langka. Aku menjadi berfikir bahwa aku harus melepasmu perlahan. Entah mengapa pikiran itu menjadi semakin meyakinkanku bahwa aku harus melepasmu dan berhenti mengharapkanmu.
Malam itu aku duduk berdua disebuah restoran italia untuk pertama kali nya denganmu. Jujur aku sangat senang saat itu. Kukira ini pertanda baik untukku. Namun aku salah. Pada malam itu pula kamu berkata bahwa wanita yang selama ini ada di fikiranmu adalah wanita selain diriku. Rasanya bagaikan aku sedang berusaha untuk terbang dan kamu menarikku kencang untuk terjatuh kelubang yang sangat dalam. Kaget? pasti. Kecewa? benar sekali. Terlebih ketika kamu bilang bahwa wanita itu adalah wanita yang dulu pernah kau kejar hatinya dalam waktu yang lama. Dan aku benar-benar jatuh.
Benar kata orang, "jika tidak ingin sakit terlalu dalam jangan mencintai begitu dalam". Aku bingung. Aku menjadi orang yang hilang arah, namun aku masih cukup sadar untuk tidak melakukan hal-hal negatif. Kecewa, sedih, marah bercampur aduk menjadi satu. Aku bukan kecewa karena hatimu untuk dia, namun aku kecewa kenapa aku bisa jatuh cinta padamu. Jatuh cinta yang terlalu dalam. Dua setengah tahun aku jatuh padamu dan aku terlalu bodoh untuk menunggumu selama itu.
Karena malam itu aku menjadi orang yang tidak disiplin. Aku tiba-tiba memutuskan nekat untuk pergi ke kost sahabatku yang lokasinya cukup jauh dari tempat tinggalku dibandung. Tidak ada rasa takut. Tidak ada pemikiran panjang. Padahal saat itu ada tanggung jawab yang harus kupenuhi dikampus. Aku rela beralasan seadanya. Aku hanya ingin tenang dan meluapkan semua amarahku. Aku harus keluar sejenak dari lingkunganku. Aku menjadi orang yang tak ramah untuk beberapa saat. Untuk senyumpun rasanya mengeluarkan tenaga yang banyak. Rasanya semua syaraf untuk menggambarkan kegembiraanku putus begitu saja.
Aku bukan tipe orang yang mudah meneteskan air mata ketika sedih. Aku menahan semua rasa amarah, sedih, kesal, dan kecewaku karena aku tidak ingin orang-orang melihat isi hatiku yang sudah kamu hancurkan begitu saja. Namun kali ini aku tak sanggup menahannya. Sudah terlalu sakit. Sudah terlalu sering aku mengalami hal ini. Jatuh cinta berujung ketidakpastian. Aku lelah. Aku capek. Tak tau apa dosaku hingga aku harus mengalami hal ini berulang kali. Dan untuk pertama kali nya aku menangis karena seorang lelaki. Karnamu. Sengaja tak ku ceritakan kepada orang tua dan kakak ku. Aku yakin mereka lebih sakit dari pada ku. Anak perempuan satu-satu nya dan adik perempuan satu-satu nya hati nya dilukai oleh lelaki yang baru dikenalnya beberapa tahun saja. Aku tidak ingin menambah pikiran mereka. Jadi kubiarkan ini kusimpan sendiri.
Mungkin juga ini adalah jawaban dari semua doa-doaku. Mungkin kata Allah aku harus berhenti sampai disini. Ketika hatimu untuk yang lain aku bisa apa. Ketika aku selalu berusaha mati-matian berada didekatmu ketika kamu butuh semangat tapi hati dan pikiranmu bukan untukku, aku bisa apa. Toh cinta tidak bisa dipaksakan. Cinta juga tidak harus memiliki. Tidak logis memang, karena pada kenyataannya ketika sudah cinta semua orang pasti ingin memiliki. Aku cukup banyak belajar pada saat itu, aku masih bersyukur bahwa ketika aku sedang jatuh dan tak tau arah karena sakit yang kamu buat, Allah masih membawaku kearah yang benar. Disaat aku terlalu kecewa, aku juga terlalu banyak mendapatkan hikmah.
Berusaha menjauh darimu. Aku harus menjauh darimu. Menjauh sementara demi luka yang kudapat. Aku hanya ingin sembuh dengan caraku. Perlahan tapi pasti. Aku cukup yakin aku bisa. Hmmm sepertinya aku memang bisa menjauh darimu. Aku mulai terbiasa untuk tidak melihatmu di social mediaku yang terhubung denganmu. Aku mulai terbiasa tidak memikirkanmu. Luka yang kau buat terlalu dalam, ada batas ketika aku mulai memikirkanmu lagi. Mungkin ini memang yang terbaik. Seolah-olah hati dan fikiranku mulai terbuka, buat apa aku mengharapkanmu dan menyiksa diri sendiri padahal kamupun belum tentu jodohku.
Aku bodoh. Memang. Aku menyadarinya. Aku sendiri yang membuat kekecewaan ini. Bukan salahmu memilih wanita lain karena memang aku bukan siapa-siapamu. Aku yang selalu berusaha berada di sisi mu, membuatmu selalu tersenyum, kamu abaikan, sedangkan dia yang jauh darimu, tidak pernah melakukan apa-apa untukmu malah kamu bangga-banggakan. Dunia tidak adil. Kadang tidak semua pengorbanan dihargai. Aku ikhlas. Sangat ikhlas. Buat apa juga kupaksakan kalau memang hatimu bukan untukku. Kupikir, mengapa aku begitu ikhlas merelakanmu dengan yang lain ya? mungkin karena aku terbiasa berjuang sendirian, aku terlalu lelah untuk berjuang sendirian.
Sudahlah memang takdir bukan berpihak padaku. Aku bisa apa. Bukan kamu yang membuatku kecewa, tapi aku kecewa dengan diriku sendiri. Jika saja malam itu kita tak bertemu, mungkin aku tak pernah sesakit ini olehmu. Namun jika saja aku tidak bertemu denganmu malam itu, mungkin aku tidak pernah belajar banyak hal darimu. Terimakasih atas semua kebaikan yang selama ini kau berikan padaku. Mungkin cukup sampai disini saja hatiku untukmu. Akan kuberikan sisanya untuk dia yang memang memilihku tanpa alasan. Bukan bermaksud untuk memutuskan tali silaturahmi denganmu, hanya saja aku tidak ingin terlalu banyak bertukar kata denganmu.
Biarkan aku mempersiapkan diriku saat ini untuk masa depanku. Jika saja nanti aku akan bersamamu di masa depan, setidaknya aku sudah lebih siap dan pantas untuk bersanding denganmu. Tapi jika memang Allah tak mengizinkan aku denganmu, aku pasti lebih bahagia melihatmu dengan jodoh pilihan Allah untukmu. Mungkin aku sedikit berlebihan. Karena ketika aku jatuh pada seseorang, aku tidak pernah bercanda. Terimakasih kamu.
No comments:
Post a Comment