Keesokan harinya. Seperti biasa hari selasa selalu menjadi hari terlelah dalam seminggu, 3 matakuliah dalam 1 hari, dari pagi lanjut siang sampai sore. Aku dapat kabar dari teman sekelas bahwa kamu dirawat dirumah sakit di Cimahi, dalam perjalanan pulang ke kosan sehabis kuliah mandarin teman sekelas bilang bahwa kita akan menjengukmu, hari kamis dan jum'at karena cuma hari itu yang kami kira ada waktu senggang. Aku hanya membalas "Aku titip salam aja deh kalo kendaraan minim" karna aku tau rumah sakit tempatmu dirawat jauh dan anak-anak kelas kita tak banyak yang punya mobil. Sampai mendapat kabar kamu dirawat pun aku belum tau kamu sakit apa, aku masih tetap mengira kamu dirawat hanya karena Tifus atau Demam berdarah.
Rabu itu, entah mengapa awalnya aku tidak ingin berangkat kuliah, rasa malas yang luar biasa akhirnya aku lawan, aku tetap masuk kuliah. Karena telat, aku duduk dipaling belakang. Sahabatmu bilang kamu menderita radang otak, aku kaget, sungguh tak menyangka anak pintar dan pendiam sepertimu bisa mengidap penyakit berbahaya seperti itu. Sungguh rasa nafsu belajarku dikelas pun hilang, caca sibuk dengan hp nya yang menelfon boby sang ketua kelas karna kami berusaha mencari kendaraan untuk menjengukmu rabu itu juga, bukan dibagi 2 shift seperti rencana awal. Aku mengira dirimu pasti koma dirumah sakit, benar saja ketika diparkiran aku bertemu raisya dia bilang kamu ga sadar. Sore itu hujan sangat lebat, kami tetap memaksa untuk menjengukmu. Sampai dirumah sakit, mobil vela sampai duluan, aku melihat keempat temanku, vela, resta, uni, aghni, menangis didepan kamarmu, mereka bilang kamu koma, kamu gak sadar, matamu terbelalak ke langit-langit kamar. Aku tertegun melihat kondisi mu, terbaring kaku tak berdaya di tempat tidur. kita biasa berbincang dikelas, membicarakan masalah pelajaran dikelas, tertawa bersama, bermain bersama, namun kini kamu diam tak berdaya, aku dan teman-teman datangpun tak ada respon darimu, hanya air mata yang mengalir dari matamu yang kulihat dari ujung kasurmu. Tak kuat mata ini akhirnya aku menangis didepanmu malam itu, awalnya aku tak ingin menangis namun aku sungguh tak tega melihatmu seperti itu. Tetanggamu bilang kamu terkena virus otak yang menyebabkanmu kejang-kejang dan mengamuk 2 hari dirumah sakit, mungkin kepalamu sakit luar biasa, cuma kamu dan Allah yang tau. Ibumu pingsan dan ayahmu tak hentinya menangis. Fikiranku tak karuan, semua bayang-bayang ada di fikiranku. Aku takut kamu akan begini selamanya, atau kamu terbangun dengan lumpuh dan kamu tidak bisa masuk kuliah. Itu yang membuatku terus meneteskan air mata melihatmu. Hanya jalan terbaik Allah yang aku minta pada-Nya untukmu. Ketika jalan ke masjid untuk shalat maghrib, ricky bilang sebelum kamu sakit, kalian foto studio dan bon pengambilan foto kamu yang simpan. Mungkin itu pertanda darimu, pertanda dan kenang-kenangan terakhir sebelum kamu pergi.
Waktu terus berjalan, hari semakin malam, aku dan teman-teman memutuskan untuk pulang karena esok hari kuliah pagi, aku dan caca pamit kepadamu, kata ayahmu kamu mendengar apa yang aku bisikkan ketelingamu. Saat aku berbisik ke telingamu, aku berusaha tegar dan kuat untuk menahan tangis. Aku berbisik ditelingamu, setidaknya kamu tau bahwa aku dan teman-teman datang menjengukmu dirumah sakit. Ketika aku dan caca ucapkan salam padamu, matamu meneteskan air mata itu tandanya kamu mendengar bisikkan ku dan caca. Lalu aku dan teman-teman pulang dan berharap itu bukan pertemuan kita untuk terakhir kalinya.
Diperjalanan aku merasa ada yang aneh melihat penanganan dari rumah sakit tadi, untuk pasien yang menderita gangguan pada otak hingga koma sepertimu, sangat minim menurutku, aku kira kamu dirawat diruang khusus atau biasa disebut ICU yang hanya boleh dimasuki 2 atau 3 orang yang harus memakai baju steril dan dirimu dipasangi banyak selang dibadanmu seperti nenekku sakit dulu, suster bilang kamu gak perlu itu semua, penanganan seperti ini pun bisa. Ah sudahlah, aku yakin dokter pasti tau yang terbaik untuk dirimu, aku buru-buru melupakannya. Karena aku dan teman-teman lapar, kami memutuskan untuk makan didaerah Bandung kota, tidak sadar itu menjadi perkumpulan kami sekelas kembali setelah makrab kelas tahun lalu. Sayang, lagi-lagi kamu absen dari kumpul-kumpul sekelas. Setelah makan, kami semua kembali ke kosan masing-masing. Di otakku masih dibayangi pertanyaan penyakit apa yang bisa menyerangmu sampai seperti itu, sampai akhirnya aku mencari ciri-ciri penyakitmu di internet, katanya sakitmu itu disebabkan oleh bakteri yang menyerang otakmu, banyak faktor yang menjadi penyebabnya, semakin banyak pertanyaan melayang difikiranku. Namun entahlah mataku sangat lelah dan aku harus bangun pagi untuk kuliah.
Kamis pagi, aku terbangun dan masih memikirkan keadaan dirimu. Sampai dikelas, teman-teman yang tak ikut menjengukmu bertanya bagaimana keadaanmu. Sikap mereka sama seperti pertama kali aku mendengar kabar tentangmu, diam, tak menyangka, dan hanya bisa berucap "astaghfirullah". Tiba-tiba terlintas difikiranku untuk membuat pengajian di salah satu rumah untuk mendoakanmu, namun sepertinya tidak mungkin karna aku dan teman-teman sekelas sedang dikejar deadline tugas yang lumayan banyak sebelum UTS, pasti butuh persiapan yang sangat banyak untuk mengadakan pengajian sekelas. Ibuku bilang doakan saja dari kosan saja, pasti sampai.
Malamnya, aku buru-buru ke kampus karena telat ada rapat pleno. Tidak ada firasat apapun yang melintas difikiranku, sama sekali tidak ada. Ketika sampai ruang rapat, adik kelasku bertanya tentangmu, aku menceritakan semua tentangmu pada malam itu. Ketika rapat akan dimulai, BB ku berbunyi, ada pesan singkat dari Mely di whatsapp ku, secara tidak langsung mely menyampaikan ada apa-apa denganmu, badanku lemas seketika aku yakin ada berita buruk tentangmu, ternyata benar, Allah sudah memanggilmu beberapa menit yang lalu dan meninggalkan aku dan teman-teman untuk selamanya. Untung aku sempat menjengukmu kemarin, setidaknya aku masih sempat melihatmu untuk yang terakhir kalinya. Aku bingung harus bagaimana, aku tak tau apa yang dibicarakan diruang rapat, fikiranku hanya terfokus memikirkan bagaimana caranya aku dan teman-teman melayatmu sebelum jasadmu dikuburkan. Tak beberapa lama aku langsung keluar ruang rapat dan sekitar jam 10 kita semua berkumpul di depan kampus, untung ada senior yang rumahnya dekat dengan rumahmu, dia yang menuntun ku dan teman-teman sampai kerumahmu.
Jam menunjukkan sekitar pukul setengah 12 kurang, dari depan pintu rumahmu aku melihat jasadmu sudah rapih terbungkus kain kafan dan kain batik. Aku masih tak menyangka itu dirimu, namun kertas di atas tubuhmu menuliskan namamu dan binti ayahmu. Aku terus meyakinkan diriku. Malam itu aku dan teman-teman me-ngaji-kan yasin untuk dirimu. Awalnya aku dan teman-teman akan menunggu sampai pagi dirumahmu, namun sebaiknya kita pulang saja dan kembali lagi pagi-pagi untuk mengantarmu ketempat peristirahatanmu yang terakhir kalinya.
Sampai dikosan sekitar pukul 2 pagi, caca memutuskan menginap dikamarku. Aku harus tidur karna jam 7 harus kumpul untuk kerumahmu lagi, namun mata ini tak bisa memejam. Aku hanya ingin cepat-cepat pagi datang. Entah waktu terasa sangat cepat, aku mulai bisa tertidur pukul 5. jam 6 aku memaksa untuk bangun dan bersiap-siap untuk kekampus. Kantuk yang luar biasa menguasai diriku, pusing rasanya kepala ini. Setelah sarapan akhirnya pukul setengah 9 aku dan teman-teman berangkat.
Sampai dirumahmu, dosenku bilang kamu sedang dimasjid untuk disolatkan. Aku masih cukup tegar sampai akhirnya aku berbalik badan dan menyadari bahwa keranda yang membawa jenazahmu berada dibelakangku. Seketika aku langsung lemas dan menangis. Aku masih tak menyangka yang ada didalam keranda yang ditutup oleh kain hijau itu adalah kamu. Rasa tidak ikhlas kembali ada dihatiku, aku terus meyakinkan diriku untuk ikhlas namun apa yang aku lihat mengalahkan semuanya. Tak hentinya mata ini meneteskan air mata. Tangisku semakin menjadi ketika telinga ini mendengar bunyi tanah yang berbenturan dengan papan penutup jenazahmu ketika tanah kubur mulai ditutup, tak sanggup rasanya. Ada rasa tidak ikhlas yang sangat besar di hati ini dan aku masih tidak menyangka, kuburan yang aku dan teman-teman taburi bunga adalah kuburmu. Apalagi ketika namamu disebut sangat jelas ketika berdoa, sakit hatiku mendengarnya, kamu telah pergi untuk selama-lamanya.
Tidak ada lagi namamu di absen terakhir dikelas Administrasi Bisnis B, tidak ada lagi yang aku contek ketika ujian, tidak ada lagi yang mengajarkanku pelajaran dikelas, tidak ada lagi yang rajin ketika kerja kelompok, tidak ada lagi anak pintar diruang kedua ruang ujian yang biasa kumintai sharing apa yang dia pelajari sebelum ujian berlangsung, tidak ada lagi yang membicarakan k-pop saat pelajaran dikelas, tidak ada lagi yang mengantarku pulang ketika kamu pulang sendiri. Kini semua hanya kenangan, kenangan yang bisa diceritakan dengan teman sekelas kalau aku sedang rindu dirimu. Semakin sakit hati ini ketika orang-orang meninggalkan kuburan dan dengan berat aku berkata "Dadah yuli, aku pulang ya assalamualaikum". Entah mengapa sampai selesai menguburkanmu pun aku masih belum bisa berhenti menangis, sesak dadaku ini sangat sesak. Namun aku dan teman-teman harus pulang karena masih ada kuliah siang nanti.
Kuliah tetap diadakan dan kuis tetap dilaksanakan. Makin sedih ketika aku melihat namamu dicoret di absen sebagai pertanda kamu sudah tidak ada lagi dikelas. Mengerjakan kuis seadanya tanpa perduli bagaimana hasilnya, aku masih sedih karena mu. Aku buru-buru menyelesaikan kuis dan pulang kekosan karena aku tidak ingin nangis didepan teman-teman dikelas. Seharian mata ini tak ada hentinya meneteskan air mata, aku masih belum ikhlas dan percaya kamu pergi begitu cepat. Aku terus meyakini hati dan fikiranku untuk ikhlas. Namun aku tidak boleh terus berlarut dengan kesedihan, masih banyak tugas dan kewajiban yang harus kukerjakan. Keesokan harinya aku terbangun, kepalaku sakit karena kurang tidur. Siangnya aku paksakan untuk ke kampus mengikuti tutorial sebelum ujian. Sepulangnya aku melihat chika jalan sendirian menuju pulang, tidak bersamamu lagi. Aku melihat dia cukup tegar, dia sudah tidak menangis walau kulihat dari raut muka ketika ia melontarkan tawa adalah tawa yang dipaksakan namun itu yang membuatku sadar bahwa aku harus ikhlas dengan kepergianmu. Chika yang sangat dengan denganmu saja sudah ikhlas masa aku tidak. Aku baru tersadar, akhirnya aku dan teman-teman benar-benar mengadakan pengajian untukmu malam itu. Dan rabu itu menjadi hari terakhir aku menyentuhmu dan melihat wajahmumu untuk yang terakhir kali. Dengan kepergianmu berarti itu jawaban Allah atas doaku, kepergianmu menjadi jalan terbaik yang Allah berikan. Aku menjadi ikhlas melihatmu pergi dari pada aku terus melihatmu terbaring koma dirumah sakit atau sembuh dengan menggunakan kursi roda, itu pasti menyiksamu. Allah lebih sayang sama kamu. Dan kepergianmu adalah cara Allah untukmu sembuh, sembuh dari penyakitmu dan kembali ke sisi Allah.
Sampai hari ini aku selalu merindukanmu. Kamu sedang apa di surga? Kamu sudah bertemu Allah? UTS kemarin bangkumu kosong, ternyata sekarang absen kita jauh karna banyak anak kelas lain dikelas kita. Selalu namamu yang pertama kulihat di absen UTS. Untung pengawas tidak menanyakan kehadiranmu diruang ujian, jka ditanya aku tak akan sanggup menjawabnya. Dan aku sedih melihat chika kini ia kemana-mana selalu sendiri, dulu dia selalu bersamamu. Kudengar kemarin, katanya dia kini tak ada lagi teman bertukar film atau bertukar cerita korea. Kini personil GoGoGirls berkurang 1 lagi setelah riri pindah untuk melanjutkan kuliah diluar negri, namun kepergianmu untuk selamanya dan tak akan pernah kembali. Dan GoGoGirls akan kehilangan 1 personilnya untuk selamanya. Hahaha lucu ya kamu dan sahabat-sahabatmu dikelas disebut itu karna kalian memiliki kesukaan yang sama yaitu korea. Aku rindu dirimu. Kamu pasti senang ketika aku dan teman-teman menjengukmu malam itu, pasti kamu mendengar bisikkan aku dan caca ketika pamit pulang, dan kamu pasti meLihat aku dan teman-teman mengantarmu ke rumahmu paling terakhir, benarkan? aku juga sangat senang bisa mengantarmu sampai terakhir pertemuan kita. Ketika pelajaran MSDM, aku lihat namamu di absen, namamu juga sudah dicoret dan dituliskan bahwa kamu sudah tiada. Sedih rasanya.
Tuhan aku titip yuli. Terimakasih engkau pernah menemukanku dengan yuli walau hanya sebentar. Terimakasih kamu sudah mau mengenalku. Baik-baik ya kamu disurga. Sampaikan salamku untuk kakek dan nenekku di surga, bilang kamu teman sekelasku dikampus, pasti mereka tau. Mahasiswi pintar yang selalu ada di absen paling terakhir, namun paling pertama pergi meninggalkan Adbis B untuk selamanya. Selamat jalan sahabat, semoga jalanmu terang. Love you!
Yuliyanti, 21 Juli 1994 - 20 Maret 2014
Waktu kuis mankeu, caca ngasih ini ke aku. Aku simpan di binder supaya aku selalu inget sama kamu. Ini waktu kita ngedata anak-anak buat ngejenguk kamu sambil iseng nulis cepet sembuh. Dan sekarang aku tau caramu untuk sembuh.
Uts hari pertama, seharusnya kursi sebelah feny itu kamu, tp kosong.
Waktu nguburin kamu, aku foto kuburan kamu, kenang-kenangan terakhir tentang kamu. Rumah terakhir kamu pas banget kena sorot matahari, cerah banget, semoga secerah dan seterang jalan kamu ke surga yah.
Waktu campus visit, aku baru inget kita pernah foto bareng. Cuma ini yang aku punya, harusnya kamu bilang kalo mau pergi biar kita banyak foto berdua.
And the last, ini jadi foto kelas pertama dan terakhir buat kamu ya yul, kamu akan selalu jadi mahasiswi absen terakhir adbis b 2012 dan kamu akan selalu ada di hati kita semua.




No comments:
Post a Comment